Kamis, 13 September 2012

Leo Sutanto DARI PENJUAL KARCIS MELESAT JADI PEMBUAT SINETRON



Leo Sutanto
DARI PENJUAL KARCIS MELESAT JADI PEMBUAT SINETRON

KLIK - Detail Dari kepalanya timbul ide-ide cemerlang. Banyak sinetron dan tayangan di layar kaca jadi fenomenal karenanya. Kariernya diawali dari penerjemah cerita Mandarin. Lalu pembawa film, penjual karcis sampai mengimpor film asing. Ayah empat anak ini tak punya keinginan muluk. "Saya hanya ingin jadi raja di istana yang kecil."

Bagaimana Anda bisa terjun ke dunia pertelevisian, khususnya film dan sinetron?
Wah, panjang, deh. Sejak usia 19, usai SMA, saya magang di sebuah koran. Saya banyak menerjemahkan cerita dalam bahasa Mandarin. Dulu, kan, saya bersekolah di sekolah Cina berbahasa Mandarin.

Memangnya, sejak kapan Anda senang dengan tulis-menulis?
Sejak duduk di SMP. Saya termasuk gemar berkhayal. Saya sangat senang pelajaran Bahasa, terutama mengarang. Merangkai kata-kata indah, buat saya membahagiakan. Makanya, begitu ada lowongan, saya coba melamar, ternyata lulus. Jadi, deh, saya menulis novelet atau cerpen di koran yang namanya saya lupa.

Kok, bisa lompat ke dunia film?
Saat itu, tahun 1969, Sejahtera Film (SF), perusahaan film pimpinan Benny Soeherman membutuhkan penerjemah bahasa Mandarin. Sebab, film Panji Tengkorak yang terkenal itu, adalah kerjasama antara Indonesia-Taiwan.

Apa tugas Anda?
Awalnya cuma menerjemahkan skenario atau naskah. Beberapa judul atau tulisan kalau diterjemahkan mungkin terasa kaku. Tugas saya meluweskan kalimatnya.

Ada tugas lainnya?
Tentu saja ada. Perusahaan Pak Benny, kan, masih kecil. Pegawainya saja cuma lima orang. Otomatis, tiap orang harus bisa mengerjakan banyak hal.

Apa pun yang berhubungan dengan film dan peredarannya, saya ikut kebagian tugasnya. Bahkan, setelah film ditransfer menjadi pita seluloid, saya juga membawanya dengan motor dibonceng teman.

Kami juga sering berdiri di depan pintu masuk teater, menghitung berapa orang yang masuk dan menonton film kami. Selain itu, saya juga berinisiatif memerhatikan respon penonton. Apa mereka senang atau tidak pada adegan tertentu.
KLIK - Detail
Film apa saja yang pernah Anda ikuti produksinya?
Antara lain Impian Semusim, Badai Pasti Berlalu, hingga Ibunda yang cukup fenomenal saat itu.

Berapa lama Anda bekerja di SF?
Sekitar 26 tahun. Sampai nama SF berubah jadi Suptan Film. Seiring waktu, Suptan yang tadinya pelopor pengimpor film-film Cina, harus bersaing dengan serbuan film-film Hollywood.

Lama juga, ya, bekerja pada Pak Benny?
Saya senang kerjasama dengan Pak Benny karena dia sangat baik dan memberi kebebasan dalam bekerja. Dia tak harus mengontrol pekerjaan saya tiap hari. Cukup memantau dan sesekali kasih usulan. Saya akhirnya jadi tangan kanan Pak Benny.

Lalu?

Saya diajak bergabung dengan kelompok Subentra, jadi General Manager di Perusahaan Film 21. Nama 21, saya dan rekan-rekan yang menciptakan. Angka 21 kami ambil dari nomor bangunan kantor kami, yaitu di Jalan Thamrin no. 21, Jakarta.

Di situ memproduksi film juga?

Oh, tidak. Kami lebih banyak mendistribusi dan mengimpor film, terutama dari Hollywood. Awalnya memang menyenangkan, bisa pergi ke berbagai negara untuk menghadiri konferensi film internasional. Tapi lama-lama bosan juga karena saya bekerja di bawah pimpinan orang lain.

Saya mulai tidak nikmat bekerja. Gelagat saya dibaca pimpinan. Mereka memberi saya alternatif, jadi salah satu komisaris bank, biar saya tidak jenuh kerja. 

 Anda jadi lebih sukses?
Ternyata jalan keluar itu salah besar. Saya malah makin tertekan. Tahun 1997 saya keluar dan mendirikan perusahaan sendiri, Era Mandiri Grahindo. Tapi enggak lama sebab saya enggak punya uang. Jadi, begitu ada yang menawarkan kerjasama, saya langsung mau dan mendirikan Rumah Produksi Indika Era mandiri.

KLIK - Detail Menurut pengamatan, Indika termasuk rumah produksi yang membuat karya bagus dan produktif?
Memang. Dulu, kan, baru ada Multivision, yang merajai sinetron di tanah air. Bisa jadi sampai sekarang. Tapi setelah kami muncul, Multi tidak sendiri lagi. Sebelum bergabung dengan Indika, saya pernah membeli 50 judul novel karya Mira W.

Apa karya sinetron awal yang Anda buat berdasarkan novel?

Ada tiga judul, tapi semuanya belum memberi kesan mendalam bagi pemirsa, seperti Cinta di Awal 30, Cinta Dara Kembar, serta Kalau Cinta Harus Memilih. Soalnya, tahun 1998 terjadi kerusuhan. Semua stasiun teve menayangkan berita kerusuhan, yang jadi topik hangat. Makanya, semua tayangan, termasuk sinetron ratingnya turun.

Kapok bikin lagi?
Tentu saja tidak. Saya tak kenal kata menyerah. Tahun 1999, saya luncurkan sinetron Cinta yang dibintangi Desy Ratnasari dan Primus. Hasilnya sungguh mencengangkan. Bahkan karya ini meraih Panasonic Award tahun 1999.

Kemudian, berturut-turut karya kami lainnya, seperti Jangan Ucapkan Cinta, FTV, serta Pernikahan Dini yang saya buat setelah saya pindah ke Rumah Produksi Prima Entertainment, mendapat penghargaan yang sama tiap tahunnya, hingga tahun 2002.

Apa resepnya karya Anda cukup diminati masyarakat?
Tak ada yang khusus. Yang penting, pemain harus dipilih yang benar-benar sudah ngetop, dibarengi cerita yang baik. Selain itu, judul juga harus mengundang keingintahuan penonton.

Anda juga pelopor film televisi alias FTV, kan?
Cita-cita saya sejak baru bekerja, ingin sekali bikin film layar lebar. Karena belum ada dana, saya tuangkan dalam bentuk sinetron. Sayangnya, membuat sinetron yang terlalu panjang sudah tidak bergreget lagi. Kalau pun dibuat mini seri, stasiun teve tak ada yang mau, karena pihak pemasang iklan maunya acara berjalan dulu, baru melihat rating-nya, bagus atau tidak. Itu sebabnya, hampir seluruh stasiun teve menolak keinginan saya itu.

Tapi akhirnya terwujud juga?
Ya, tapi saya harus benar-benar meyakinkan pihak stasiun teve. Walau saya tahu, mereka masih mengkategorikannya sebagai proyek rugi. Tapi hasilnya ternyata tak mengecewakan. FTV disambut baik.

Ada cerita di balik nama FTV?
Sama seperti 21, saya selalu ingin nama produk yang bisa diingat penonton. Kalau film teve cuma muncul judulnya, orang pasti bingung dengan cerita yang silih berganti. Nah, ketika saya dan rekan-rekan berdiskusi, muncul, deh, nama FTV. Mulai Oktober 2000, tayangan perdananya muncul, berjudul Hari-Hari Tanpa Suami yang diperankan Inneke Koesherwati.

Setelah itu ada karya lainnya?
Pihak stasiun yang tadinya menolak mini seri, akhirnya meminta saya membuatnya. Hadir, deh, Layar Mini Seri (LMS) dan Sinetron Mini Seri (SMS) di stasiun teve yang berbeda. Namun, setelah puas berkarya melalui Prima Entertainment, November 2002 saya mengundurkan diri lalu membangun perusahaan sendiri, Sinemart.
KLIK - Detail
Mengapa?
Ya itu tadi, saya tak bisa kerja di bawah pimpinan orang lain. Mungkin awalnya saya diberi kebebasan, tapi kenyataannya tidak. Tapi, sudahlah, saya justru berterima kasih pada orang yang memberi kesempatan saya untuk menjalankan usaha tersebut.

Berarti Anda harus merambah dari bawah lagi?
Sudah jadi risiko. Pertama kali membangun perusahaan ini, saya hanya modal dengkul. Tekad dan semangat untuk membuat yang terbaik, serta kepercayaan dari para relasi di stasiun teve itulah yang menguatkan saya. Sekarang, kalau saya menawarkan proposal ke stasiun teve, kalau mereka setuju, mereka harus bayar uang muka sebagai uang produksi awal.

Bagaimana Anda menjaring pegawai?
Beberapa dari mereka adalah mantan pegawai saya di berbagai tempat yang pernah saya pimpin. Itu sebabnya saya tak pusing lagi mengajarkan tugas mereka. Pokoknya, saya lebih senang menjadi raja di istana kecil ketimbang menteri di kerajaan besar. Artinya, meskipun sederhana perusahaan ini, saya bisa memimpin dengan tenang, tanpa campur tangan orang lain.

Sekarang pegawai saya ada 30-an, termasuk pegawai freelance. Karya kami bisa Anda tonton, seperti Malam Pertama dan Bukan Cinderella.

Masih punya cita-cita lain?
Saya berharap bisa memproduksi sendiri film layar lebar dan dapat terwujud dalam waktu dekat. Jenisnya drama suspense, berjudul Setelah Menit ke-18 dan rencananya dimainkan oleh Marcella.

Kalau tak salah, Anda sedang sibuk membuat Ada Apa Dengan Cinta (AADC) versi sinetron?
Benar. Setelah tahu film layar lebarnya sukses, saya langsung menghubungi Mira Lesmana dan Riri Riza. Namun mereka tak bisa memberi jawaban, karena berencana membuat sekuelnya. Setelah setahun, barulah Mira memberi lampu hijau.

Rahasia apa lagi yang Anda lakukan agar sinetron ini diterima masyarakat?
Enggak ada yang spesifik. Karena, para pemain seperti Dian Sastro (dulu menjadi Cinta) dan Nicolas Saputra (sebagai Rangga) menolak tawaran untuk main lagi, akhirnya kami bikin audisi agar remaja dan penonton tahu bahwa akan ada AADC versi sinetron. Bayangkan, ribuan orang lalu datang dan ingin jadi salah satu dari 10 karakter yang akan tampil.

Ceritanya sendiri bagaimana?
Karena lanjutan, cerita digeser ke kehidupan mereka setelah lulus SMU. Cinta, tokoh utamanya, kini punya kehidupan baru bersama teman-temannya, termasuk sang pacar Rangga.

Nah, kapan waktu luang untuk keluarga?
Itu yang sulit saya jawab. Saya akui, saking banyaknya pekerjaan, saya sering melupakan waktu dan kebersamaan dengan istri dan empat anak saya. Istri, Elly Yanti Noor, sering komplain karena saya terlalu sibuk.

Anak-anak ada yang mengikuti jejak Anda?
Dua dari anak-anak saya, Novi Christina (25), Mitzy Christina (23), Cindy Christina (21), dan Nathaniel Gray Sutanto (13), ikut bekerja di perusahaan saya. Sekarang, Gray yang paling terlihat hobi nonton film seperti saya. Kami malah sering berdiskusi soal film. Dia sangat kritis.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

harap komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA