Kamis, 13 September 2012

kisah: Indro Warkop


Indro Warkop
KAKI LUMPUH AKIBAT MELOMPAT DARI LANTAI

KLIK - Detail Berhenti main film layar lebar, Warkop DKI beralih ke sinetron komedi. Meskipun Kasino dan Dono akhirnya meninggalkannya untuk selamanya karena sakit, Indro tetap bertekad meneruskan Warkop. Sebagai bentuk penghargaannya pada Warkop, Indro mengubah namanya jadi Indro Warkop.

Meski sempat bingung karena tak ada syuting lagi, ternyata Tuhan berkehendak lain. Tahun berikutnya, Indosiar mengontrak kami untuk sinetron komedi Warkop DKI. Tuh, kan, betul kataku. Rezeki enggak bakal ke mana-mana!

Masuk dunia layar kaca, mewajibkan kami beradaptasi lagi dengan dunia baru. Meski saat itu sudah 17 tahun kami malang melintang di dunia perfilman, secara teknik, kamera layar kaca seakan berbicara dalam bahasa yang berbeda dengan kamera layar perak.

Mas Dono, sang intelektualnya Warkop, tentu paling antusias menghadapi sesuatu yang baru. Pelan-pelan Mas Dono mempelajari hal-hal baru di dunia sinetron. Dengan ilmu yang diperolehnya, ia mulai unjuk gigi menjadi sutradara dan produser. Lucunya, walaupun sudah jadi sutradara, Mas Dono tetap mau retake alias mengulang pengambilan gambar kalau menurut teman-teman syutingnya kurang bagus. Hebat, ya?

Dengan adanya Warkop DKI versi sinetron komedi, kami bertiga kerap muncul di acara-acara lain di Indosiar, misalnya Gebyar BCA. Setelah beberapa bulan tidak muncul, senang juga rasanya bertemu lagi dengan para penggemar. Apalagi, teve adalah media yang mencakup masyarakat luas. Jadi, misinya tidak terlalu berbeda dari misi kami saat terjun ke layar lebar, yaitu untuk menghibur masyarakat.

DAPAT FIRASAT SEBELUMNYA
Sayang, kegembiraan tidak berlangsung lama. Sekitar tahun 1996, Mas Kasino mengabarkan kami bahwa ia terkena tumor otak. Aku merinding mendengar penyakit yang dideritanya. Namun tak ada lain yang dapat kami lakukan kecuali terus membesarkan hati Mas Kasino. Kami semangati ia agar terus berobat dan tidak putus asa.

Pengobatan kanker lewat kemoterapi memang tidak ringan. Beberapa kali Mas Kasino terpaksa absen dari layar sinetron yang kami garap. Setelah efek samping pengobatan tidak terlalu parah, Mas Kasino kembali syuting. Tentu, syuting kali ini sangat memperhitungkan kesehatan Mas Kasino.

Setelah berjuang kurang lebih setahun, akhirnya Mas Kasino kalah melawan penyakit yang dideritanya. Beberapa saat sebelum meninggal, aku sempat mendapat firasat. Waktu itu kami hendak mengadakan acara pengajian dan aku berdiskusi dengannya mengenai acara tersebut. Tapi Mas Kasino malah menjawab, "Iya, deh, kalau urusan doa, gue serahin sama yang masih hidup saja."

Duh, Mas Kasino! Siapa sangka....

Sepeninggal Mas Kasino, terus terang, aku dan Mas Dono sempat kebingungan. Kalau
KLIK - Detail tidak ada Mas Kasino, siapa yang bakal melakukan tugas melobi dan marketing yang selama ini digarap Mas Kasino? Bagaimana dengan nama grup kami, Warkop DKI? DKI, kan, singkatan nama kami bertiga, bagaimana grup kami tanpa Mas Kasino?

Seribu "bagaimana" menggema di kepala kami. Akhirnya kami mengubah nama menjadi Warkop Millenium. Tujuannya bukan untuk "mengenyahkan" Mas Kasino, tapi sebagai bentuk penyegaran. Sebab, tanpa Mas Kasino, kami akan menjadi pribadi yang sama sekali berbeda.

Meskipun Mas Kasino sudah tidak ada, aku dan Mas Dono tidak mau kalau tayangan Warkop Millenium sampai merosot mutunya. Makanya kami bekerja keras. Kalau dulu, aku lebih berperan sebagai pengumpan, sekarang aku dan Mas Dono sama-sama harus bisa tampil lucu seperti dulu.

SEMPAT LUMPUH MENDADAK
Saking inginnya kerja keras, pernah dalam sebuah syuting aku harus melompat dari balkon lantai dua setinggi empat meter. Sebagai alas jatuh, kru film telah menumpuk kardus-kardus, sebab tak ada matras yang bisa menahan beban yang jatuh dari ketinggian segitu.

Sayangnya, saat itu tidak ada stuntman yang bisa menggantikan peranku. Wah, bagaimana ini? Melihat kebimbanganku, sutradara pun tidak mengharuskanku melakukan adegan tersebut hari itu juga.

Tapi aku ingin melakukan yang terbaik. Setelah mereka-reka sebentar, aku merasa yakin bahwa aku pasti bisa melakukannya. Lagipula, aku, kan, sudah terbiasa melakukan kegiatan fisik semacam itu waktu aku aktif di Pramuka dulu. Maka jadilah aku melakukan adegan tersebut. Lompatan pun berlangsung dengan sukses.

Namun enam bulan kemudian, suatu pagi, aku tidak bisa menggerakkan kedua kakiku. Aku lumpuh! Berkelebat di hadapan mataku, wajah istri dan ketiga anakku. Bagaimana jika aku sampai tidak bisa bekerja? Dokter pun datang memeriksa keadaanku.

Katanya, tulang punggungku cidera. Kelumpuhan kaki adalah efek sampingnya.
Dia lantas bertanya, "Pak Indro pernah jatuh, ya?" Sedikit pun tak terlintas bahwa terjunku dari lantai dua waktu itu adalah penyebab dari kelumpuhan kakiku. Untung dokter mengatakan bahwa dengan minum obat dan berlatih, aku akan mampu berjalan lagi. Semua nasihat dokter itu kuikuti dengan patuh.

Tahu enggak, hingga akhir hayatnya, Mas Dono tidak pernah tahu tentang kelumpuhan mendadak yang menimpaku itu. Begitu juga, tak banyak media massa yang mengetahui kabar tersebut. Mengapa? Karena peristiwa itu terjadi saat para mahasiswa tengah berdemo menggulingkan penguasa Orde Baru. 




AJAK MAPALA MERAWAT DONO
Mas Dono, yang memang dosen UI, terjun langsung di tengah mahasiswa. Beberapa pemikirannya sebagai sosiolog sejati tentu merupakan masukan yang sangat berharga bagi para mahasiswa. Dan kesehatanku mulai pulih saat MPR resmi memberhentikan presiden yang berkuasa saat itu. Aku pun mendampingi Mas Dono, ikut datang di antara mahasiswa yang berdemo. Tak banyak orang tahu peristiwa itu.

KLIK - Detail Bertahun-tahun aku dan Mas Dono menggarap Warkop Millenium berdua saja. Suka duka, canda tawa, selalu kami bagi bersama. Tak heran, hatiku seakan tercabik ketika aku mendengar sebuah berita duka akhir tahun 2001 itu. Mas Dono yang kuanggap sebagai kakakku, sahabatku sekaligus keluargaku, menghembuskan nafas terakhir....

Untunglah, aku sempat menemani Mas Dono saat dirawat di rumah sakit pada hari-hari terakhirnya. Seperti saat Mas Kasino sakit dulu, aku mengajak anak-anak Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA), tempat Mas Kasino dan Mas Dono berkecimpung saat mahasiswa dulu, untuk ikut merawat Mas Dono. Saat Mas Dono menghadap Sang Pencipta, bendera Mapala yang sangat dicintainya juga turut menemaninya "pergi".

Masih terngiang obrolanku dengan Mas Dono saat dia sudah sakit, dan Warkop dapat tawaran untuk membawakan acara Malam Tahun Baru dan Halal Bihalal. "Ambil tawaran itu, Ndro," ujar Mas Dono. "Lho, Mas Dono, kan sakit? Mana bisa Warkop manggung tanpa Mas Dono?" tanyaku. "Ndro, kita masing-masing inilah Warkop. Warkop, ya, Indro Warkop," tegas Mas Dono. "Kamu harus teruskan Warkop, Ndro...."

Nah, sekarang aku seorang diri. Apa yang harus kulakukan? Yang terpikir di kepalaku yang mulai jarang berrambut ini adalah meneruskan sinetron komedi di Indosiar. Nama Indro Warkop yang kupakai hingga saat ini pun, adalah salah satu bentuk penghargaanku terhadap Warkop. Dengan begini, nama Warkop tidak akan mati sebelum semua anggota Warkop betul-betul mangkat.

Maka, sekali lagi aku bekerja keras. Sekarang aku tengah menggarap lanjutan Warkop Millenium. Porsiku sebagai satu-satunya anggota Warkop tetap sebesar dulu. Agar penonton tidak bosan, dalam Warkop kali ini aku kebagian delapan peran sekaligus. Menjadi Indro, Indri, orang tua dan masih banyak lagi. Wah, capeknya bukan main! Apalagi, tiap kali syuting, tata riasku pasti berbeda.

ANAK BIKIN LEMBAGA WARKOP
Dulu, Harley, anak bungsuku, pernah bilang bahwa ayahnya boleh main komedi slapstik, tapi enggak boleh jadi bencong. Dalam sinetron kali ini, janjiku terpaksa kulanggar. "Kamu, kan, tahu bahwa Om Kasino dan Om Dono sudah tiada. Maka, Papi harus mau jadi apa saja untuk "mendongkrak" sinetron ini. Lagipula, Papi enggak jadi bencong, kok, jadi perempuan beneran," jelasku. Untung ia bisa memaklumi.

KLIK - Detail Satu lagi, aku memikirkan anak-anak Mas Dono dan Mas Kasino. Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, hubungan kami seperti keluarga. Jadi, aku harus tetap bersikap sebagai ayah bagi mereka. Maka kukumpulkan anak-anakku, anak-anak Mas Dono dan Mas Kasino. Kami berembug, apa yang harus kami lakukan bagi Warkop yang selama ini telah menjadi periuk nasi di keluarga kami.

Atas inisiatif mereka, anak-anak mendirikan ikatan kekeluargaan yang tujuannya mewadahi aspirasi penggemar Warkop yang tersebar di mana-mana. Wadah ini kami beri nama Lembaga Warkop DKI. Hanna Kasino terpilih sebagai ketua, Ario Dono dan Putri Indro menjadi wakil dan bendaharanya. Adik-adik mereka menjadi anggota.

Sekarang mereka tengah sibuk mengumpulkan arsip-arsip film, artikel-artikel dan segala sesuatu yang berkenaan dengan perjalanan Warkop DKI. Aku sangat bersyukur dengan semangat mereka. Ternyata anak-anak muda itu mampu menghargai jerih payah ayah-ayahnya.

Ada satu lagi kegembiraan yang kudapatkan tahun ini. Setelah 30 tahun berkarya, Agustus lalu aku mendapat penghargaan dari Majalah Cinemag, sebagai insan perfilman yang filmnya paling sering diputar di layar kaca.

Saat menerima penghargaan itu, aku teringat kata-kata Mas Dono, "Ndro, aku ini hidup sangat kesepian." Dalam hati aku berkata, "Enggak, Mas, film-film kita dihargai, kok. Kita sudah menghibur masyarakat. Mereka enggak lupa...."TAMAT

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

harap komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA