Sabtu, 20 April 2013

SYUKUR MENAMBAH NIKMAT

Ketika manusia pertama, Nabi Adam as, selesai diciptakan, Allah Swt memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada nabi Adam as. Namun Iblis membangkang dengan dalih bahwa mereka lebih baik (mulia) dari Nabi Adam as. Iblis merasa bahwa api lebih baik daripada tanah. Konsekuensinya, Allah Swt mengusir mereka dari surga dan mengutuk mereka. Lalu Iblis minta izin Allah untuk menggoda manusia. Allah pun mengizinkan.

Firman Allah Swt, “…Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat),” (QS al-A’raf [7]: 16-17). Sepertinya Iblis berhasil melaksanakan janjinya, karena banyak diantara kita yang tidak bersyukur atas karunia dan rahmat Allah Swt.

Syukur bukan hanya di lisan, tapi juga diserap dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Tidak dikatakan bersyukur jika rasa terima kasih terhadap Allah Swt hanya berhenti pada kalimat “alhamdulillah”; sementara ia masih menyalah gunakan nikmat yang diterimanya. Misalnya memiliki kendaraan dipergunakan dalam bermaksiat kepada Allah Swt.

Syukur yang sesungguhnya adalah pujian terhadap Allah Swt, yang dilanjutkan denga mengupayakan seluruh anggota badan, pikiran dan hati. Senantiasa mengerjakan apa yang diridhai-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Inilah syukur yang sesungguhnya.

Contoh terbaik dari manusia yang aling bersyukur ini adalah Rasulallah Saw. Beliau melakukan shalat hingga kakinya bengkak-bengkak. Melihat hal ini, Aisyah ra istri tercinta Beliau heran. Lalu Aisyah ra berkata kepada Beliau, “Mengapa Baginda masih berbuat seperti ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan dosa-dosamu pada masa mendatang?”, Rasulallah Saw menjawab, ‘Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?,’”(HR Bukhari-Muslim).

Dari hadits ini tampak bahwa Rasulallah Saw tidak hanya memahami syukur sebatas ucapan dan pujian dengan lidah. Menurut Beliau, syukur adalah upaya seluruh anggota tubuh untuk mengerjakan apa saja yang diridhoi pemberi nikmat.

Jika kita bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, niscaya nikmat yang kita terima akan bertambah. Kareana Allah Swt telah berjanji, bahwa barang siapa yang bersyukur, nisacaya Dia akan menambah nikmat yang diberikan-Nya kepada kita. Firman-Nya, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah(nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih,’”(QS Ibrahim [14]: 7). Wallahu a’lam bis shawab

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

harap komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA