Jumat, 07 September 2012

Ki Dongkol, Ki Rompang, dan Mistisisme Kartosoewirjo

VIVAnews - Berpakaian serba putih dan berpeci hitam. Pria tua itu diikat pada sebuah papan yang ditancapkan tegak. Tali melilit di sekujur tubuh, kedua tangannya terikat di belakang. Matanya ditutup dengan selembar kain putih.

Sepuluh tentara berbanjar di depannya. Membidikkan bedil, lalu menembaknya. Kaki yang semula menopang badan, sedikit menekuk. Seketika, tubuh pria itu agak melorot ke bawah, tertahan temali yang menjeratnya.

Dialah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Dieksekusi mati dengan cap pemberontak yang disematkan oleh pemerintah kala itu. Dia mengobarkan perlawanan dari belantara di pegunungan Jawa Barat. Berniat mewujudkan negara Islam.

Proses eksekusi itu tergambar dalam sebuah buku berjudul "Hari Terakhir Kartosoewirjo: 81 Foto Eksekusi Mati Imam DI/TII". Karya Ketua Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Fadli Zon. Diluncurkan menjelang peringatan eksekusi itu, 12 September mendatang.

Cerita yang terangkai dalam foto itu diyakini berlangsung di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta--bukan di Pulau Onrust, seperti yang diyakini banyak orang selama ini. Dilaksanakan setengah abad silam, tepatnya 12 September 1962.

Kartosoewirjo adalah Imam Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/ TII). Dia dikenal kharismatik oleh para pengikutnya. Pria kelahiran Cepu, Jawa Tengah, 7 Januari 1907--versi lain menyebut Kartosoewirjo lahir 1905--ini juga dikenal sakti.

"Katanya, Bapak tidak mempan ditembak," kata putra Kartosoewirjo, Sardjono Kartosoewirjo dalam perbincangan dengan VIVAnews, Kamis 6 September 2012.

Kharisma Kartosoewirjo ditopang dua pusakanya. Ki Dongkol dan Ki Rompang. Ki Dongkol adalah sebuah keris, dan Ki Rompang merupakan sebilah pedang. Dua pusaka ini konon selalu melekat selama bergerilya. Senjata ini pula yang memudahkan Kartosoewirjo dalam menanamkan pengaruhnya.
Manusia Biasa
Sardjono sangat prihatin dengan pandangan ini. Terlebih, anggapan tersebut berkembang di masyarakat hingga sekarang. "Sampai saat ini pun, masih banyak yang percaya mistis pada sosok Bapak," katanya.

Dua pusaka itu, tambah dia, bukan senjata istimewa. Tidak pula bertuah sebagaimana anggapan masyarakat--terutama pengikut Kartosoewirjo. "Ki Dongkol dan Ki Rompang itu hanya benda museum, senjata biasa," tutur dia.

Sardjono mengatakan, mitos kesaktian Kartosoewirjo juga tidak terbukti. Anggapan itu, menurut dia, benar-benar keliru. "Sebab, buktinya Bapak mempan ditembak. Beliau dieksekusi," katanya.
Sardjono ingin masyarakat mengubah pandangan mistis itu. Menurut dia, kepercayaan seperti ini membuat bangsa tidak bisa maju. "Bapak hanya manusia biasa, sama seperti kita semua," tutur dia. (ren)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

harap komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA