Kamis, 18 Oktober 2012

Personel Pussy Riot Terancam Hadapi Kehidupan Sulit di Pengasingan

Era Stalin yang kejam memang sudah lama berlalu, tapi prinsip hukuman tahanan bagi orang Rusia yang diasingkan — tempat dua personel dari band punk Pussy Riot — tetap sama: mengisolasi narapidana dan memberikan pakaian seperti “pakaian buruh paksa."

Maria Alekhina dan Nadezhda Tolokonnikova harus cepat beradaptasi dengan kehidupan penjara, bertahan dengan makanan dan perawatan medis seadanya, dan risiko intimidasi dari narapidana yang tersinggung oleh lagu mereka yang mengolok-olok Presiden Vladimir Putin (atau sengaja disuruh untuk melakukan itu).

"Semua orang tahu aturannya: Jangan memercayai satu orang pun, jangan pernah takut dan memaafkan," kata Svetlana Bakhmina, seorang pengacara yang menghabiskan tiga tahun di sebuah tempat untuk tahanan yang diasingkan. "Anda berada di tanah tak bertuan. Tidak ada yang akan membantu Anda. Anda harus berpikir tentang segala sesuatu yang Anda katakan dan lakukan untuk tetap menjaga diri."

Alekhina (24) Tolokonnikova (22) dan Yekaterina Samutsevich (30) dihukum karena hooliganisme yang didorong oleh kebencian agama untuk penampilan di katedral utama Moskow karena Putin mengikuti pemilihan umum yang memberinya masa jabatan ketiga sebagai presiden Rusia. Para wanita tersebut bersikeras protes mereka karena politik. Tapi banyak umat beragama mengatakan bahwa mereka sangat tersinggung dengan sikap anggota band yang menari-nari di atas altar di balaklava.

Sebuah pengadilan banding memutuskan Samutsevich tidak bersalah pada Rabu, tetapi tetap menyetujui hukuman penjara dua tahun untuk yang lain. Hakim ketua mengatakan bahwa "hukuman untuk mereka hanya  mungkin untuk diisolasi dari masyarakat."

Dalam koloni/tempat untuk tahanan yang diasingkan untuk wanita, narapidana tinggal di barak yang diisi 30 sampai 40 orang dalam sebuah ruangan. Mereka memulai hari dengan latihan wajib saat fajar, pada subuh dengan suhu minus 30 derajat Celcius pada musim dingin. Setelah absen dan sarapan bubur, mereka menghabiskan 7-8 jam sehari di tempat kerja, biasanya bekerja dengan mesin jahit untuk membuat seragam dan pakaian lainnya.

Karena hanya ada satu koloni hukuman perempuan di dekat Moskow, tahanan perempuan dari ibu kota biasanya dikirim ke Mordovia, sebuah provinsi penuh nyamuk di Volga River. Tim pembela mereka mengatakan Alekhina dan Tolokonnikova akan dikirim ke hukuman koloni dalam waktu dua pekan, setelah menerima salinan berkas hukuman mereka. Lokasinya masih belum diketahui.

Meskipun kondisi yang keras, banyak tahanan tetap lebih memilih koloni pusat penahanan pra-sidang, di mana mereka ditempatkan dalam sel kecil, kadang-kadang sangat tidak higienis dan hanya diperbolehkan keluar satu jam sehari. Para personel Pussy Riot ditahan di tempat itu sejak mereka ditangkap pada Februari.

Narapidana Rusia ditempatkan dalam sistem yang digambarkan menteri keadilan Rusia sebagai hal yang "amat kuno" dan yang tujuannya mengalami sedikit perubahan selama ratusan tahun. Tsar Rusia mengirim tahanan ke koloni Siberia terpencil di mana tidak tersedia cukup banyak sumber daya; sistem ini diwariskan dan dikembangkan oleh Uni Soviet, yang mempekerjakan jutaan tahanan sampai mereka mati. Rusia memenjarakan lebih banyak orang daripada negara mana pun dunia seperti Amerika Serikat dan China, menurut International Centre for Prison Studies.

Ada juga narapidana koloni pejabat pada era Putin di Rusia.

Mikhail Khodorkovsky, kepala perusahaan minyak Yukos yang dipenjara, menjalani sebagian dari 14 tahun hukuman di koloni Siberia Timur. Salah seorang pria terkaya di Rusia itu menjalani hukumannya dengan membuat sarung tangan. Ditangkap pada 2003, Khodorkovsky dinyatakan bersalah dalam dua kasus yang dianggap sebagai hukuman karena menentang kekuasaan Putin.

Bakhmina, yang pernah bekerja untuk Khodorkovsky, mengatakan Anda memiliki waktu luang sedikit untuk diri sendiri di koloni penjara, di mana penjaga seringkali memaksa tahanan untuk menghadiri kelas atau berpartisipasi dalam kegiatan budaya. Dalam sebuah surat kabel diplomatik AS yang dirilis oleh WikiLeaks pada 2010, mantan duta besar William Burns ingat pernah mengunjungi penjara wanita di mana narapidana mengenakan “busana aneh dan melakukan pertunjukan bakat” di depan para pejabat Amerika.

"Tidak ada kebosanan dalam koloni. Itu konsep yang terlalu bagus. Anda hanya akan menyesali waktu yang Anda habiskan di dalam koloni," kata Bakhmina. "Orang normal bahkan tidak bisa membayangkan lingkungan itu — Anda harus terbiasa dengan itu dan orang harus membiasakan diri dengan Anda. Dibutuhkan beberapa bulan, mungkin setengah tahun. Ini semua tentang bagaimana Anda bersikap — Anda tidak boleh menjadi sombong dan harus menghormati orang lain. "

Tahanan biasanya mendapat bayaran sama rata sekitar $10 (sekitar Rp96 ribu) per hari, yang dapat mereka gunakan untuk membeli makanan, rokok, dan perlengkapan mandi. Mereka yang keluarganya tidak mengirim logistik, menjadi pekerja pasar tidak resmi, membersihkan fasilitas-fasilitas koloni atau melakukan pekerjaan bagi narapidana yang lebih kaya. Rokok adalah mata uang internal koloni itu.

Alekhina dan Tolokonnikova, keduanya lulusan universitas, tidak mungkin memiliki banyak kesamaan dengan sesama narapidana. "Saya tidak berpikir akan ada orang yang memiliki kesamaan 90 persen," kenang Bakhmina. "Aku tidak pernah mengira ada begitu banyak pecandu narkoba, atau begitu banyak orang yang mengalami kesulitan berbicara."

Pasangan diperbolehkan melakukan kunjungan suami-istri tiga hari selama empat kali dalam setahun. Narapidana yang menunjukkan perilaku sangat baik bahkan dapat diberikan cuti dua pekan di luar perkemahan. Bakhmina hamil saat menjalani hukuman dan dibebaskan beberapa bulan setelah melahirkan seorang anak perempuan. Dia bertemu dua anak laki-lakinya yang lebih tua hanya dua kali selama tiga tahun menjalani hukuman di koloni, karena takut akan membuat trauma anak-anaknya melihat ibu mereka dipenjara.

Para ibu dengan anak-anak di bawah usia 3 tahun dapat menjaga mereka di pusat-pusat koloni hukuman, atau dalam satu koloni di Mordovia, di dalam barak mereka. Putra Alekhina yang berusia lima tahun dan putri Tolokonnikova yang berusia empat tahun akan tinggal bersama kerabat.

Kedua personel band punk itu dapat dihukum sampai 15 hari di sel isolasi untuk pelanggaran kecil seperti tidak merapikan tempat tidur atau meletakkan tangan mereka di belakang punggung mereka saat diabsen atau terlalu cepat menyapa penjaga.

Mungkin bahaya terbesar yang akan dihadapi personel Pussy Riot itu adalah berasal dari sesama narapidana. Kekerasan fisik relatif jarang terjadi dibandingkan dengan koloni pria. Namun, tekanan psikologis dapat lebih besar, kata Vitaly Borshchyov, kepala Public Monitoring Commission, sebuah organisasi hak asasi manusia yang bekerja sama dengan pemerintah untuk memperbaiki kondisi penjara.

"Koloni tersebut mengorbankan semua hal untuk wanita," katanya. "Jika ada sebuah kelompok perempuan bersama-sama dalam satu ruangan maka akan selalu berakhir pada ketegangan dan konflik. Anda mungkin akan dipukuli, dipermalukan secara seksual atau dipaksa untuk menjadi kekasih seseorang, terutama jika Anda seorang wanita muda."

Pengacara personel Pussy Riot dan pendukung mereka juga takut bahwa penganut kepercayaan Ortodoks mungkin akan menyerang mereka, baik karena terinspirasi dari pemberitaan negatif tentang protes mereka di televisi negara atau diperintah oleh pejabat negara.”

"Ketika hal-hal buruk terjadi di luar, itu akan terbawa ke dalam koloni," kata Lev Ponomarev, seorang warga Soviet pembelot yang mengelola organisasi Defending Prisoners' Rights. "Para penjahat berpikir mereka bisa lolos. Pihak berwenang benar-benar tidak peduli."

Para personel band itu telah bersumpah untuk tetap menjadi pembangkang.

"Kami tidak akan diam," kata Alekhina di pengadilan banding, Rabu. “Bahkan jika kami berada di Mordovia atau Siberia kami tidak akan diam ... seberapa kerasnya kalian mencoba untuk memfitnah kami."

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

harap komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA